PociNews | Washington, (3/2) Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) resmi merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen terbaru terkait kasus skandal seks dan perdagangan manusia yang melibatkan mendiang miliarder Jeffrey Epstein. Rilis masif ini langsung menggemparkan publik dunia dan memicu gelombang tuntutan transparansi serta keadilan bagi para korban.
Dalam konferensi pers, Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menyampaikan bahwa dokumen tersebut mencakup lebih dari 2.000 video dan sekitar 180.000 gambar, hasil penyelidikan panjang selama lebih dari dua dekade. Dokumen-dokumen itu berasal dari berbagai investigasi federal, termasuk kasus Epstein di Florida dan New York, serta persidangan mantan kaki tangannya, Ghislaine Maxwell .
Blanche menegaskan, sebagian besar dokumen telah melalui proses penyuntingan ketat (redaksi) guna melindungi identitas korban, privasi, serta informasi sensitif yang dapat membahayakan keselamatan para penyintas.
“Kami merilis dokumen dalam skala besar, namun tetap memprioritaskan perlindungan korban dan kepatuhan hukum,” ujar Blanche.
Jaringan Elite dan Tekanan Politik
Rilis dokumen ini membuka kembali tabir jaringan pergaulan elite Epstein, yang disebut memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh berpengaruh dunia, mulai dari pengusaha, politisi, hingga selebritas. Meski demikian, DOJ menyatakan bahwa belum ditemukan bukti baru yang cukup kuat untuk menjerat pelaku tambahan secara hukum .
Langkah DOJ ini menuai beragam respons dari parlemen AS. Sejumlah anggota Kongres menuding adanya upaya penutupan sebagian fakta, lantaran masih terdapat jutaan dokumen yang belum sepenuhnya dibuka ke publik. Partai Demokrat bahkan menyebut kasus ini berpotensi menjadi skandal penutupan terbesar dalam sejarah hukum Amerika modern .
Luka Lama yang Kembali Terbuka
Kasus Epstein sendiri merupakan salah satu skandal pelecehan seksual terbesar abad ini. Epstein dituduh merekrut dan memperdagangkan puluhan gadis di bawah umur untuk melayani kalangan elite dunia. Ia ditemukan tewas di sel tahanan pada 2019, dalam peristiwa yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, namun hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar.
Rilis dokumen terbaru ini diharapkan dapat mendorong keadilan bagi para korban, sekaligus membuka tabir gelap praktik kejahatan seksual terorganisir yang melibatkan kekuasaan dan uang.