PociNews | Tarub : Ada satu kalimat lucu yang sebenarnya sangat dalam maknanya dan sedang viral di masyarakat saat ini.
“Kenapa Hari Raya Qurban lebih sepi daripada Hari Raya Idul Fitri? Karena berqurban jauh lebih sulit daripada meminta maaf.”
Awalnya terdengar seperti candaan. Tapi semakin dipikirkan, semakin terasa kenyataannya.
Saat Idul Fitri, semua orang mudah berkata “Mohon maaf lahir dan batin.”
Namun ketika Idul Adha datang, tidak semua orang siap mengorbankan sesuatu yang benar-benar dicintainya.
Karena qurban bukan sekadar tentang sapi atau kambing. Qurban adalah tentang melawan sesuatu yang paling sulit dikalahkan dalam diri manusia salah satunya adalah ego.
Dan mungkin, ego terbesar hari ini bukan hanya soal harta. Tetapi juga ego dalam berbicara.
Belakangan ini, masyarakat kembali diramaikan oleh berbagai ucapan kontroversial di media sosial. Ada tokoh kontroversial publik yang dianggap melabeli suatu daerah dengan kata-kata yang menyakitkan. Reaksi masyarakat pun beragam bermunculan
ada yang marah,
ada yang kecewa,
ada yang membela,
dan ada pula yang membalas dengan hinaan yang sama kerasnya.
Di sinilah Idul Adha menjadi sangat relevan. Karena sering kali, manusia begitu mudah menyembelih perasaan orang lain lewat lisannya. tetapi sangat sulit menyembelih kesombongan dalam dirinya sendiri.
Kita hidup di zaman ketika orang mudah viral karena kontroversi, mudah terkenal karena provokasi dan mudah dipuji karena keberanian berbicara didepan publik.
Padahal tidak semua yang berani bicara berarti bijaksana.
Kadang satu kalimat yang dianggap kritik berubah menjadi pelabelan.
Kadang satu opini dipublik berubah menjadi penghinaan terhadap jutaan manusia.
Dan lebih ironis lagi, orang-orang yang marah terhadap penghinaan itu akhirnya ikut menghina balik. Akhirnya semua merasa paling benar, tapi tidak ada yang benar-benar memperbaiki keadaan.
Padahal Idul Adha mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar ritual tahunan. Nabi Ibrahim tidak diperintahkan untuk merendahkan orang lain.
Beliau diperintahkan untuk mengorbankan sesuatu yang paling beliau cintai.
Artinya apa? inti qurban bukan hanya menyembelih hewan saja.
Tetapi menyembelih sifat buruk dalam diri manusia bisa berupa,
ego yang terlalu tinggi,
lisan yang terlalu tajam,
emosi yang sulit dikendalikan,
dan kebiasaan merasa diri paling benar.
Karena jujur saja, menahan amarah itu lebih berat daripada mengetik komentar.
Menjaga lisan itu lebih sulit daripada mencari pembenaran.
Dan menghormati orang yang berbeda pendapat sering kali lebih sulit daripada memenangkan perdebatan.
Hari ini kita melihat betapa mudahnya masyarakat terpecah hanya karena kata-kata. Satu unggahan bisa membuat orang saling membenci. Satu opini bisa memancing permusuhan antar daerah, antar kelompok, bahkan antar saudara sebangsa.
Padahal Indonesia terlalu besar untuk dipersempit oleh ego media sosial. Kalau ada ucapan yang salah, lawan dengan cara yang bermartabat,
dengan akhlak,
dengan ilmu,
dengan argumentasi,
atau dengan jalur hukum yang benar.
Bukan dengan ikut menjadi kasar.
Karena kedewasaan bukan terlihat saat kita dipuji. Tetapi saat kita dihina lalu tetap mampu menjaga diri.
Mungkin benar, Idul Adha lebih sepi daripada Idul Fitri. Karena meminta maaf itu mudah diucapkan.Tetapi mengorbankan ego itu butuh perjuangan seumur hidup.
Semoga di Hari Raya Idul Adha ini kita bisa merefleksi diri bahwa bukan hanya hewan yang disembelih. Tetapi juga, kebencian, kesombongan, dan kebiasaan merendahkan orang lain.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya diminta mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan, tetapi juga apa yang ia ucapkan.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR. Bukhari & Muslim
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.
“Pisau qurban memang mampu menyembelih hewan, tapi belum tentu mampu menyembelih ego manusia
Semoga Allah menerima qurban kita, sekaligus mengajarkan kita menjadi manusia yang lebih bijak dalam berbicara.
Tarub, 10 Dzulhijjah 1447 H ./ 27 Mei 2026