Mengapa orang yang sangat sopan saat bertatap muka bisa berubah menjadi beringas saat mengetik di kolom komentar? Fenomena ini semakin meresahkan. Layar gawai seolah menjadi perisai yang membebaskan kita dari tanggung jawab moral untuk berkata baikk.
Kita sering berdalih "kebebasan berpendapat", padahal yang kita lakukan adalah "kebebasan menghujat". Kritik yang membangun telah digantikan oleh ujaran kebencian yang dibungkus sarkasme. Kita lupa bahwa di balik akun yang kita komentari, ada manusia nyata yang punya perasaan.
Jejak digital itu abadi. Apa yang kita tulis hari ini mencerminkan kualitas intelektual dan emosional kita. Jika kita tidak berani mengucapkan kalimat itu langsung di depan wajah orangnya, maka jangan ketik kalimat itu. Mari kita kembalikan adab ketimuran kita ke ruang digital. Menjadi kritis itu perlu, tapi menjadi jahat itu pilihan—dan itu pilihan yang buruk.