Oleh : Abakh Fattah
Pegiat Wirausaha Sosial & Pemerhati Pendidikan
Di tengah riuh rendah pemberitaan tentang persoalan guru akhir-akhir ini, ada satu kegelisahan yang patut kita renungkan bersama: pendidikan sedang berjalan di atas garis yang semakin tipis antara niat baik dan salah paham.
Guru, yang seharusnya berdiri tenang sebagai pendidik, kini sering kali melangkah dengan rasa waswas. Teguran yang dulu dianggap wajar, hari ini bisa berubah menjadi masalah. Nasihat yang diniatkan mendidik, bisa berujung panjang di ruang publik. Dalam situasi seperti ini, satu kalimat sederhana menjadi relevan untuk kita ulangi: ikhlaskan anakmu dididik oleh gurunya.
Mengikhlaskan bukan berarti membebaskan tanpa batas. Ikhlas adalah memberi kepercayaan, sembari tetap membuka ruang komunikasi. Ikhlas adalah mendahulukan adab sebelum emosi, musyawarah sebelum prasangka.
Pendidikan tidak tumbuh dalam atmosfer saling curiga. Ia lahir dari relasi yang sehat antara orang tua dan guru. Ketika kepercayaan runtuh, guru akan memilih aman, bukan mendidik. Anak akan diajarkan cara lulus, bukan cara bertanggung jawab.
Anak-anak kita tidak hanya menyerap pelajaran dari papan tulis. Mereka merekam sikap orang dewasa. Saat orang tua mudah meluapkan amarah, anak belajar membenarkan kemarahan. Saat guru dilemahkan di depan umum, anak belajar meremehkan otoritas. Namun ketika orang tua dan guru berdiri dalam satu barisan, anak belajar makna kedewasaan.
Harus diakui, guru hari ini memikul beban yang semakin berat. Di satu sisi dituntut mencetak generasi berkarakter, di sisi lain dibatasi oleh rasa takut salah. Jika kondisi ini dibiarkan, pendidikan akan kehilangan keberanian untuk menanamkan nilai.
Mengikhlaskan anak dididik oleh gurunya juga berarti mengembalikan marwah pendidikan itu sendiri. Bahwa sekolah bukan sekadar tempat menghafal, tetapi ruang pembentukan manusia. Dan proses membentuk manusia tak pernah steril dari teguran, kesalahan, dan pembelajaran hidup.
Sudah saatnya kita menurunkan ego, menaikkan empati, dan menguatkan kolaborasi. Orang tua dan guru bukan dua kutub yang saling berhadapan, melainkan dua amanah yang saling melengkapi.
Maka di tengah gaduhnya isu pendidikan hari ini, marilah kita belajar mengikhlaskan anak kita dididik oleh gurunya. Karena pendidikan yang tumbuh dari kepercayaan akan melahirkan generasi yang berani, beradab, dan bertanggung jawab.